Beranda > 1980 - 1989 > Meraih Mimpi : Tentang Hari Tjahjono

Meraih Mimpi : Tentang Hari Tjahjono

Saya dilahirkan di sebuah kampung di Madiun, Jawa Timur. Ayah sudah meninggal ketika saya baru berusia setahun. Sejak ditinggal sang ayah, saya tumbuh menjadi seorang anak yang tidak percaya diri. Ini didukung kenyataan bahwa secara fisik saya termasuk anak yang paling kecil dibanding teman sekelas dan teman sepermainan. Pernah ketika saya dipercaya memimpin lomba baris-berbaris tingkat SD, di sepanjang jalan orang tertawa terpingkal-pinkal melihat komandan barisan tingginya kurang dari sepundak pasukan yang dipimpinnya. Sehingga alih-alih memupuk rasa percaya diri, kepercayaan yang diberikan guru saya itu malah membuat saya semakin minder.

Rasa minder ini berlanjut dan malah semakin parah pada waktu SMP. Saya menjadi anak yang gagap! Walaupun nilai ujian saya hampir selalu yang terbaik di sekolah, tapi di kelas saya selalu deg-degan kalau disuruh guru menjawab pertanyaan-pertanyaan lisan. Waktu disuruh menjadi ketua kelas pun saya malah jatuh sakit. Alhasil, sampai lulus SMP saya menjadi pribadi yang selalu gamang dan tidak percaya diri. Akibatnya, sampai lulus SMP saya menjadi anak yang tidak punya mimpi-mimpi apapun. Makanya saya sering bingung sendiri kalau ditanya cita-cita. Jawaban saya biasanya sangat standard: kadang-kadang menjawab insinyur, kadang-kadang menjawab ingin jadi dokter.

Perubahan terjadi waktu saya masuk SMA dan membaca buku-buku tentang Soekarno seperti “Soekarno Penyambung Lidah Rakyat” karangan Cindy Adam. Barangkali karena tersihir karisma Bung Karno, tiba-tiba saja saya mempunyai mimpi yang menjulang di langit: ingin kuliah di ITB seperti Soekarno! Sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk anak desa seperti saya yang tinggal nun jauh di pelosok kabupaten Madiun. Bayangkan, sudah puluhan tahun berdiri, alumni SMA saya yang masuk ITB bisa dihitung dengan sebelah jari tangan saja. Rata-rata mereka takut nama besar ITB, walaupun hanya sekedar mendaftar! Paling banter teman-teman saya masuk ITS, Unair, UGM atau universitas-universitas lain di sekitar Jawa Timur.

Saya pun sebenarnya juga dihinggapi sindroma ITB. Walaupun selalu juara umum sejak kelas 1 SMA, tetap saja saya gamang mendaftar masuk perguruan tinggi prestisius di Bandung itu. Rupanya kegamangan saya ini dibaca oleh guru saya. Sehingga waktu ada pendaftaran masuk ITB tanpa tes, guru saya buru-buru mengisinya tanpa terlebih dahulu mendiskusikannya dengan saya secara mendalam. Rupanya beliau ingin sekali saya bisa masuk ITB seperti yang saya cita-citakan dengan malu-malu kucing.

Singkat cerita, saya diterima masuk ITB tanpa tes. Hari-hari pertama kuliah di ITB saya lalui dengan riang gembira. Seluruh kegiatan perkuliahan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) saya lalui dengan lancar tanpa halangan berarti. Seluruh mata kuliah dapat saya selesaikan dengan baik dan saya lulus TPB tepat waktu. Saking senangnya, saya tidak sadar bahwa jebakan lebar telah terbentang menunggu di depan saya.

Salah Jurusan
Begitu masuk jurusan, satu per satu masalah mulai muncul. Kalau sewaktu TPB semua mata kuliah dapat saya lalui dengan baik dan lancar, kini saya harus tertatih-tatih mengikuti perkuliahan jurusan. Kalau di TPB nilai-nilai saya lebih banyak A dibanding B, maka di jurusan saya harus ikut ujian ulangan hampir di semua mata kuliah yang saya ambil. Kalau waktu TPB saya menjadi rujukan bagi teman-teman yang kurang memahami materi kuliah, kini saya mesti terseok-seok untuk sekedar lulus ujian. Kalau waktu TPB saya jarang sekali tidur di atas jam 9 malam, kini hampir tiap hari saya mesti begadang sampai dini hari. Itupun hasilnya sangat mengecewakan: saya mesti ikut ujian ulangan hampir untuk semua mata kuliah yang saya ikuti.

Walaupun banyak dikelilingi bidadari-bidadari cantik, jurusan Farmasi ITB betul-betul menjadi neraka buat saya. Tetapi “neraka dunia” ini memberikan pelajaran yang sangat berharga: mengajarkan kepada saya bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Teman-teman saya yang waktu di TPB kedodoran mengikuti pelajaran matematika misalnya, bisa melenggang santai mengikuti mata kuliah morsitum (morfologi dan sistematika tumbuhan) dan sebagainya. Walaupun saya belum pernah tahu teori multiple-intelligence-nya Howard Gartner, waktu itu saya langsung bisa mengapresiasi berbagai jenis kecerdasan yang tidak melulu berkaitan dengan matematika dan sejenisnya. Alhasil, kesombongan saya karena selalu mendapat nilai A untuk mata kuliah matematika di TPB langsung runtuh.

Waktu di TPB, saya sering membatin “kok yang begitu saja nggak tahu sih?” ketika melihat mahasiswa/i tidak dapat menurunkan rumus matematika yang sederhana. Waktu itu saya sering tidak habis pikir kok ada mahasiswa ITB yang seperti itu. Kini, saya kena tuahnya. Untuk mata kuliah yang buat seorang mahasiswa/i sangat mudah, kini buat saya sulitnya minta ampun. Runtuh sudah perasaan menjadi putra-putri terbaik Indonesia.

Karena sudah tidak tahan lagi terus-terusan kena her, saya memberanikan diri izin pindah jurusan kepada ketua jurusan Farmasi ITB. Entah dengan pertimbangan apa, ibu ketua jurusan selalu menolak permintaan saya. Berkali-kali menghadap, berkali-kali pula saya mendapat jawaban yang sama, “Saudara pasti bisa kuliah di sini, silakan dicoba lagi dan belajar lebih keras lagi.” Barangkali ibu ketua jurusan yang baik itu terlalu silau dengan nilai-nilai TPB saya, dan lupa bahwa selama setahun terakhir ini mental saya hancur lebur karena mesti mengikuti ujian dua kali lebih banyak dibanding mahasiswa/i yang lain yang tidak perlu mengulang ujian.

Karena mentok menghadapi ketua jurusan yang “terlalu berprasangka baik” itu, akhirnya saya bertekad untuk bergerilya sendiri supaya bisa pindah jurusan at any cost. Akhirnya saya segera menghadap ketua jurusan matematika ITB. Kok ndilalah beliau tidak ada di tampat. Akhirnya saya mencoba keberuntungan menghadap ketua jurusan Mesin yang waktu itu dijabat Pak Djoko Suharto. Alhamdulillah beliau ada di tempat, dan alhamdulillah pula beliau bersedia menerima saya. Ealah, prosesnya kok jadi mudah sekali. Beliau hanya bertanya apakah benar saya serius pindah jurusan, dan apakah saya tahu konsekuensinya, bahwa kalau ada satu saja mata kuliah yang tidak lulus saya langsung out dari ITB. Dan ketika saya jawab ya, beliau langsung membuat persetujuan tertulis yang mengubah drastis jalan hidup saya di masa depan. Sejak saat itu saya menjadi mahasiswa percobaan dengan kode khusus 88.πŸ™‚

Teknik Penerbangan ITB: Kawah Candradimuka
Begitu pindah jurusan, semangat belajar saya kembali menggebu. Karena resiko sebagai mahasiswa percobaan begitu besar, saya memutuskan istirahat secara total dari unit kegiatan mahasiswa dan 100% fokus kuliah. Sebuah keputusan yang berat, karena waktu itu semangat saya untuk aktif berorganisasi begitu menggebu. Sejak menjadi Ketua OSIS di SMA, semangat saya untuk berorganisasi meluap-luap. Dan begitu masuk ITB, keinginan berorganisasi ini seperti menemukan ladang yang subur. Kenangan masa SMP yang selalu gamang dan tidak percaya diri sudah hilang ditelan bumi. Tapi demi tujuan yang lebih besar, saya rela istirahat sementara dari organisasi dan fokus kuliah saja. Kelak setelah selesai masa percobaan, saya kembali aktif berorganisasi sampai dipercaya menjadi ketua umum organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan anak-anak itu.

Pengalaman menjadi mahasiswa percobaan ternyata memberikan kenangan yang tidak pernah terlupakan. Menjadi mahasiswa percobaan seperti berjalan di atas seutas tali. Perasaan selalu was-was karena sekali gagal habislah sudah harapan untuk terus kuliah di ITB. Tetapi saya tidak boleh berhenti. Keputusan sudah saya ambil, dan tidak ada pilihan untuk mundur atau menyerah. Ketika rasa was-was itu muncul, sering juga muncul ketakutan yang luar biasa. Takut gagal, takut ketendang dari ITB. Tapi begitu mengingat perjuangan Ibu saya yang sendirian berjuang luar biasa keras menghidupi keempat anaknya, spirit itu tumbuh kembali. Kelak pengalaman mengelola rasa was-was dan tekad yang kuat untuk melangkah ini sangat berguna dalam mengarungi kehidupan yang keras ini.

Setelah berjuang selama setahun penuh, alhamdulillah tantangan sebagai mahasiswa percobaan akhirnya dapat saya lalui dengan baik. Ada perasaan lega luar biasa. Tapi godaan berikutnya muncul lagi. What’s next? Fokus kuliah atau fokus organisasi? Atau dua-duanya?

Karena keinginan berlatih berorganisasi masih menggebu, akhirnya saya aktif kembali di organisasi. Alhasil, kuliah dan organisasi mesti berjalan beriring. Masalahnya, tantangan di perkuliahan juga tidak ringan. Waktu itu saya mesti memilih subjurusan. Mau Teknik Mesin Konstruksi atau Teknik Mesin Penerbangan? Sebetulnya saya tidak punya preferensi khusus, konstruksi ok, penerbangan juga ok. Toh walaupun saya besar di Madiun yang terkenal dengan lapangan terbang militernya, saya tidak punya ikatan batin dengan dunia penerbangan. Akhirnya pertimbangan memilih subjurusan bukan karena ikatan emosional atau hobby, tapi lebih ke tantangan! Mana yang lebih sulit itu yang akan saya pilih. Looks very arogan, itu memang itulah pertimbangan saya memilih teknik penerbangan yang katanya susah lulus!

Akhirnya kuliah di subjurusan teknik penerbangan untuk tingkat sarjana muda bisa saya selesaikan tepat waktu. Walaupun nilainya tidak bagus-bagus amat, saya senang bisa menjalani kuliah beriringan dengan kegiatan organisasi.

Masalah mulai muncul di tahun berikutnya ketika beban organisasi semakin berat karena saya ditunjuk sebagai ketua umum organisasi yang saya tekuni. Praktis selama setahun itu saya hanya sekali-sekali saja datang ke kampus. Akibatnya, saya pernah diusir dosen keluar kelas karena tidak mengerjakan PR! Lebih cilaka lagi, saya gagal dalam ujian untuk mata kuliah itu. Tidak hanya kena her, saya harus mengulang di tahun berikutnya. Itulah satu-satunya pengalaman mengulang mata kuliah selama di ITB. Dan ternyata, pengalaman gagal itu justru sangat penting dalam mengarungi kehidupan yang serba tidak pasti ini. Alhamdulillah, saya pernah gagal! Jadi saya harus mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Pak Mardjono yang telah mengajarkan kepada saya bagaimana menghadapi sebuah kegagalan.

Nah. pengalaman berikutnya yang sangat challenging adalah menyelesaikan tugas perancangan pesawat dan tugas akhir. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa untuk lulus sebagai sarjana penerbangan ITB kita harus menyelesaikan tugas kuliah sekomprehensive perancangan pesawat. Teman-teman di luar penerbangan pada geleng-geleng kepala ketika tahu ada tugas perancangan pesawat ini. Bayangkan, untuk melakukan study pasar saja saya harus bolak-balik Bandung – Jakarta selama 3 bulan. Dan tujuannya “cuma” satu: menghitung berapa kapasitas pesawat yang dibutuhkan pasar Indonesia. Intellectual excercises yang terjadi di ruang asistensi bersama Pak Diran pun sangat berkesan sampai sekarang. Kalau boleh jujur, dari sekian banyak mata kuliah yang saya pelajari di ITB, yang tetap saya ingat sampai sekarang ya diskusi-diskusi hangat di ruang asistensi itu. Kadang saya sering geli sendiri mengingat argumentasi-argumentasi saya di ruang asistensi yang maksa-maksa. maksudnya maksa-maksa supaya cepet lulus. he-he-he.

Setelah lolos (catat: lolos, bukan lulus) dari tugas perancangan pesawat, tantangan berikutnya adalah menyelesaikan tugas akhir. Ini sebuah tantangan yang tidak ringan, makanya harus diatasi dengan upaya yang ekstra pula. Hampir selama 9 bulan penuh saya tidur di laboratorium! Pagi, siang, sore, dan malam tinggal di laboratorium, dan hanya pulang ke tempat kos untuk naruh baju kotor! What an unforgetable story! Kenapa mesti tinggal begitu lama di lab, barangkali juga karena cara kerja saya yang kurang sistematis. Tapi pengalaman kerja spartan seperti itu menyisakan kebanggaan tersendiri… he-he-he…

Kelak pengalaman menyelesaikan tugas perancangan dan tugas akhir ini seolah menjadi simulasi dari kehidupan yang sebenarnya. Betapa kita harus siap menghadapi komplikasi persoalan teknis dan non-teknis yang campur aduk menjadi satu. Kemampuan kita mengelola komplikasi masalah itulah yang sebenar-benarnya diajarkan dari kedua tugas kuliah itu. Saya bersyukur pernah melewati proses itu. Kalau tidak, belum tentu saya berani pindah kuadran di usia yang tidak muda lagi. Alhasil, teknik penerbangan ITB benar-benar menjadi kawah candradimuka bagi saya untuk berani manghadapi tantangan kehidupan dan mewujudkan mimpi-mimpi saya…

Membangun Karir
Begitu selesai sidang sarjana, saya sempat terpikir untuk kerja di perusahaan besar dengan gaji besar. Layak sekali rasanya perjuangan saya selama 7 tahun kuliah di ITB dengan segala dinamikanya diganjar dengan gaji yang besar. Tujuh tahun kuliah mestinya setara dengan seorang doktor… he-he-he… Tapi dorongan untuk menjadi guru seperti Bapak dan Ibu saya juga besar sekali. Walaupun semasa kuliah saya pernah merintis “karir” di bidang entrepreneurship dengan menjadi tukang koran dan berjualan brem, entah mengapa keinginan menjadi entrepreneur sama sekali tidak tumbuh sewaktu saya menyelesaikan kuliah. Alhasil begitu selesai wisuda sarjana saya ngendon terus di lab penerbangan menjadi seorang calon dosen di almamater tercinta.

Setelah magang sebagai dosen selama sekitar 3 bulan, saya memutuskan hijrah ke Jakarta mencari tantangan baru. Bukan bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar seperti yang pernah saya impikan, saya terdampar membantu perusahaan seorang teman di bidang penerbitan. Saya langsung menggondol jabatan keren: manajer sirkulasi. Walaupun dengan jabatan manajer, jangan bayangkan saya mendapat gaji setara manajer, apalagi manajer perusahaan minyak. Gaji yang saya terima waktu itu hanya lebih besar sedikit dari gaji calon dosen ITB. Dengan gaji segitu dan hidup di Jakarta, kebayang sudah kesulitan yang saya hadapi. Mending tetap jadi dosen, karena masih dapat tunjangan dari IPTN…πŸ™‚

Lagi-lagi nasi sudah mejadi bubur. Keputusan sudah diambil dan pantang bagi saya untuk menyesali apalagi sambil merintih-rintih minta belas kasihan. Selama berbulan-bulan saya menjalani profesi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia penerbangan. Tiap hari saya keliling Jakarta untuk mendistribusikan majalah yang diterbitkan perusahaan tempat saya bekerja. Ketika malam tiba, saya sering termenung atas langkah yang saya ambil ini. Am I doing the right thing? Sambil tiduran di kantor yang pengap, hampir setiap malam saya melakukan kilas balik atas perjuangan saya sejak SMA, kuliah di ITB selama 7 tahun, dan kini berlabuh di Jakarta di sebuah perusahaan penerbitan yang masa depannya tidak jelas mau kemana.

Di tengah kegundahan yang membuncah itu, Tuhan rupanya mengirim seorang dewa penolong. Tidak ada topan dan tidak ada angin, seorang sahabat datang ke kantor saya. Saya sudah lupa persisnya sang sahabat itu ngomong apa, tapi yang jelas ujung-ujungnya mengajak saya bergabung bersama beberapa alumni penerbangan yang lain untuk mendaftar kerja di PT Sempati Air. Siapakah sahabat dan sekaligus dewa penolong itu? Tidak lain dan tidak bukan dia adalah Pak Indar Atmoko, PN 83, atau saya biasa memanggilnya Mamo. Barangkali Pak Indar bisa cerita mengapa tiba-tiba datang ke kantor saya untuk mengajak saya kembali ke jalan yang benar… he-he-he…

Singkat cerita, saya bersama beberapa anggota rombongan sirkus cap gajah bekerja di Sempati sebagai seorang engineer muda. Walaupun tidak se-advance apa yang dipelajari di kampus, kami ber-enam alumni PN ITB tekun bekerja di bawah bimbingan Pak Eddy Prayitno, PN 72, yang waktu itu menjabat sebagai direktur teknik. Belum setahun bekerja di Sempati, saya dikirim Pak Eddy mengikuti training engine and airframe system pesawat F-100 di Fokker Aircraft BV, Belanda. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dalam sebulan penuh saya mesti belajar sistem pesawat bersama para mekanik. Jelas posisi saya waktu itu adalah underdog, karena saya blank sama sekali bagaimana sistem seperti APU itu bekerja, bagaimana melakukan trouble shooting kalau ada masalah teknis yang terjadi, dsb.

Di situlah kemampuan survival saya diuji. Saya mesti melakukan segala daya upaya supaya bisa lulus. Saya harus lulus, karena kalau kalau tidak kredibilitas insinyur penerbangan di mata para mekanik Sempati bisa terancam. Dan karena pendekatan “teknis” saja tidak mencukupi, saya mesti melakukan pendekatan “non-teknis”, ialah membujuk teman mekanik saya untuk mau belajar bersama. Ini jauh lebih efektif karena dia seorang mekanik yang cukup berpengalaman yang tahu seluk beluk sistem pesawat, yang tentu saja bisa menjelaskan dengan lebih baik daripada hanya dengan membaca buku.

Perjuangan saya selama sebulan penuh akhirnya membuahkan hasil. Saya lulus ujian dengan nilai yang tidak mengecewakan Pak Eddy Prayitno yang mengirim saya, dan juga tidak mengecewakan sahabat saya mekanik yang mau tekun berbagi belajar bersama. Tapi tunggu, di hari terakhir training saya di Fokker saya menerima fax dari Jakarta. Isinya membuat saya terbengong-bengong. Betapa tidak, saya mendapat penugasan baru dari Pak Eddy untuk men-set up organisasi baru, Information System, di Direktorat Teknik PT Sempati Air. Belum juga ilmu yang saya pelajari sempat saya pakai, saya harus mengerjakan pekerjaan baru yang lain sama sekali. Boro-boro mau menerapkan ilmunya, wong waktu menerima fax saya masih belum pulang ke Jakarta. Saya masih anteng di Schiphol, Amsterdam! Rupanya Allah SWT meminjam tangan Pak Eddy untuk membelokkan karir saya. Sejak saat itu saya switch ke bidang IT sampai sekarang…

Lebih dari 5 tahun saya menekuni bidang IT ini di Sempati. Pengalaman yang sangat berharga sampai sekarang adalah memimpin tim pengembangan software IMAGES (Integrated Maintenance and Engineering System) bekerja sama dengan beberapa software houses termasuk tim dari PAU ITB. Sungguh pengalaman yang sangat berharga untuk belajar project management sebuah proyek IT.

Sekolah Lagi
Salah satu proyek yang saya koordinasikan sewaktu kerja di Sempati adalah mengukur On-Time Performance berbagai tipe pesawat bersama-sama dengan Pak Diran dan Pak Mahardi Sadono, PN 85. Di sini Tuhan kembali menunjukkan kuasanya untuk “ikut campur” mewarnai perjalanan karir saya. Di tengah-tengah obrolan informal, Pak Diran menanyakan apakah saya tidak ingin sekolah lagi. Tidak mau berbasa-basi, saya langsung menyampaikan ke Pak Diran kalau saya tentu saja ingin sekolah lagi, tapi mesti di luar negeri. Beberapa hari kemudian Pak Diran menyodorkan formulir pendaftaran, dan saya langsung diterima sekolah MBA di Belanda, walaupun belum dites! What a surprising moment! Rupanya saya ini “korban” NKK, nolong kawan-kawan, karena ternyata Pak Diran adalah ketua tim seleksi yang surat referensinya sakti mandraguna.

Segeralah saya berangkat kembali ke Belanda untuk sekolah lagi. Rencana saya sekolah ke Belanda yang gagal karena saya tidak jadi dosen di Jurusan Penerbangan ITB akhirnya terbayar lunas. Terima kasih Pak Diran, saya tidak akan pernah melupakan jasa Bapak mengirim saya sekolah lagi ke Belanda. Pengalaman sekolah di Belanda mengajarkan banyak hal. Selain memaksa saya belajar membaca cepat karena setiap hari mesti membaca sekitar 80 halaman texbook, banyak hal positif yang dapat dipelajari di sana: cinta lingkungan dengan kemana-mana pergi bersepeda, budaya antri, dsb. Benar sekali pesan Pak Diran waktu saya pamit dari ITB: you mesti sekolah ke luar negeri, banyak hal yang dapat you pelajari di sana.

Pengalaman yang juga tidak akan saya lupakan adalah mencari tempat magang sebagai bagian dari program MBA ini. Setelah menyelesaikan teori selama setahun, mahasiswa didorong untuk mencari tempat magang sendiri. Walaupun kuliah saya disponsori Fokker, tetap saja saya harus mencari topik magang yang menantang. Nah, ketika itu Fokker baru saja membuka fasilitas perawatan pesawatnya di Singapore, Fokker Services Asia. Dugaan saya, karena fasilitas ini baru dibuka, maka mereka pasti membutuhkan studi yang cukup mendalam bagaimana merumuskan strategi pengembangan bisnisnya di Asia. Makanya saya langsung melakukan research kecil-kecilan untuk melihat peluang pekerjaan yang bisa dilakukan dengan skema magang. Dan setelah proposal itu siap, tidak tanggung-tanggung proposal itu langsung saya kirim ke President Director Fokker Services BV di kantor pusatnya. Belakangan saya geli sendiri dengan kenekatan saya ini. Wong hanya proposal magang saja kok dikirim sampai level presiden direktur! Tapi itulah berkah kuliah di PN ITB: selalu nekat!

Ternyata kultur Indonesia dan Belanda sangat berbeda. Apa yang saya pikir sebuah kenekatan, ternyata malah diapreasiasi dengan baik oleh direksi Fokker Services. Tidak saya duga-duga, saya dapat panggilan dari Fokker Services untuk mempresentasikan proposal saya di depan rapat direksi! Wow! Seorang mahasiswa inlander dipanggil direksi Fokker Services untuk presentasi di depan rapat direksi hanya untuk sebuah proposal magang! Sebuah pengalaman yang juga tidak terlupakan. Hati saya langsung berbunga-bunga, dan buru-buru saya naik kereta api dari Enschede ke Woensdrecht. Sepanjang jalan saya masih tidak percaya harus presentasi di depan sinyo-sinyo Belanda direksi Fokker Services. Hati saya semakin berbunga-bunga karena saya diinapkan di sebuah hotel, hotel terbaik yang pernah saya inapi selama di Eropa. Maklum waktu business trip di Sempati dulu biasanya saya menginap di hotel seadanya supaya dapat sisa untuk uang muka rumah… he-he-he…

Akhirnya proposal saya diterima, dan saya mulai mengerjakan tugas ini dengan melakukan studi pasar di Jakarta, Singapore, dan Kuala Lumpur. Rencana studi pasar di Shanghai dibatalkan karena Fokker takut program saya mengganggu hubungan kerja dengan partner mereka di China. Waktu mengerjakan studi pasar ini saya langsung ingat apa yang saya lakukan sewaktu tugas perancangan pesawat di kampus tercinta. Irama dan cara berpikirnya sama, yang membedakan hanya topiknya saja karena fokus saya sekarang merumuskan Strategic Business Development of Fokker Services in Asia.

Setelah menyelesaikan program teori dan magang hampir selama 2 tahun, saya dinyatakan lulus dan siap-siap pulang ke Indonesia… Indonesia, here I come…

Memilih Berbisnis atau Mencari Pekerjaan?
Begitu pulang ke Indonesia, tantangan baru kembali menghadang. April 1999 tentulah bukan saat yang tepat untuk kembali ke Indonesia untuk mencari pekerjaan. PHK massal terjadi dimana-mana. Setiap hari koran dipenuhi berita PHK, penutupan bank dan penutupan pabrik dimana-mana. Sempati pun sudah kolaps diterjang krisis finansial dan krisis integritas. Saya kembali limbung dan tidak memiliki pegangan apa-apa. Bisakah saya melewati ini semua? Memang sih ada sedikit tabungan, tapi paling hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Jual rumah? Sayang ah, masak rumah pertama hasil ngumpulin sisa SPJ mesti dijual. Itu rumah perjuangan yang banyak nostalgianya, termasuk nostalgia menampung air hujan untuk mandi karena tidak ada air lagi… hi-hi-hi…

Hampir 2 bulan saya limbung tidak karuan. Setiap hari saya pergi ke sana ke mari mencari peluang tetapi hasilnya selalu nihil. Saya memang tetap menjaga semangat hidup dengan keluar rumah setiap hari untuk sekedar bisa bertahan hidup. Tidak terpikir cita-cita besar dan keinginan setinggi langit layaknya alumni ITB. Tujuan saya cuma satu, bisa memberi makan anak istri. Tapi hasilnya nihil. Akibatnya, hampir setiap hari saya terbangun di tengah malam ketika anak istri terlelap tidur. Saya sering menangis dan sedih melihat mereka yang sedang terlelap itu. Untungnya mereka tidak menyadari kegalauan dan ketakutan saya. Saya takut tidak bisa menjaga dan membawanya bertahan hidup walaupun hanya sekedar memmberi makan yang cukup!

Akhirnya peluang itu ada datang juga. Ada tawaran seorang sahabat lama untuk berbisnis menanam gambas dan lidah biaya, nun jauh di daerah Subang. Katanya propeknya bagus. Gambas diambil seratnya untuk spon mandi. Lidah buaya dibudidayakan untuk membuat jus lidah buaya dan bisa dipasarkan di hotel-hotel atau rumah makan. Barangkali karena panik dan tergopoh-gopoh, tawaran itu saya samber begitu saja tanpa melakukan feasibility study yang memadai. Selang 2 bulan kemudian, saya baru sadar bahwa itu bisnis yang tidak feasible saya lakukan saat itu. Akhirnya saya memutuskan berhenti sebelum kejeblos lebih dalam. Kebetulan saat itu ada tawaran dari senior mesin untuk membantu mengembangkan software maintenance management.

Tawaran itu segera menyadarkan saya bahwa dalam keadaan krisis pun ternyata lowongan pekerjaan tetap ada. Saya lalu rajin berburu lowongan pekerjaan di harian Kompas setiap hari Sabtu. Dua surat lamaran langsung saya kirimkan. Pertama ke DHL sebagai Project Manager, dan satu lagi ke Mincom sebagai Account Manager. Hanya Mincom yang memberi respon dan meminta saya mengikuti proses seleksi yang ketat: tes potensi akademik, tes bahasa inggris, transkrip nilai, dsb. Halah, saya mesti ikut seleksi yang bertele-tele, nggak bisa NKK lagi (nolong kawan-kawan) seperti waktu mau masuk Sempati dulu… he-he-he… Tetapi karena kepepet, ya sudah ikutin saja prosesnya. In short, saya diterima bekerja di perusahaan software dari Australia ini sebagai account manager. Ini sebetulnya profesi yang sama sekali baru, karena saya tidak pernah bekerja sebagai sales ataupun customer service. Pengalaman jadi tukang koran jelas tidak memadai untuk pekerjaan sebagai account manager. Tapi karena mereka memberi kepercayaan, ya sudah saya terima saja. Habis kepepet sih… he-he-he…

Waktu bekerja di Mincom itulah saya mengalami lonjakan gaji berlipat-lipat dibanding sebelumnya. Saya malah sempat mengalami culture shock sebagai seorang OKB, tentu dengan ukuran saya yang ndeso ini. Untungnya beberapa bulan berselang saya segera sadar dengan kekeliruan ini dan berniat mulai menabung. Bukan apa-apa, saya ingin mengumpulkan modal untuk membuka lapangan pekerjaan. Sebuah impian yang muncul begitu saja akibat pengalaman traumatis yang saya alami beberapa bulan tanpa pekerjaan dan tanpa gajian. Ada keinginan “balas dendam” menciptakan lapangan pekerjaan biar pengalaman buruk itu tidak terjadi pada orang lain. Tapi ternyata keinginan mengumpulkan modal itu tidak semudah yang dibayangkan.

Waktu di Mincom itulah saya mulai kenal SAP, karena mereka begitu agresif mendekati customer-customer saya untuk migrasi dari Mincom ke SAP. Sampai-sampai komentar salah satu customer yang sudah terpengaruh bisa sangat provokatif, “Hari, book value sistem Mincom saya sudah nol nih, sudah waktunya ganti sistem”. Wah, another challenge has come… Tentu saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya bertekad mempertahankan customer saya dari gempuran-gempuran itu at all cost. Saya membuat tulisan besar-besar di meja kerja saya: BEAT SAP! Bos saya senang sekali melihat semangat saya yang menggebu-gebu itu. Semangat khas mahasiswa PN ITB untuk menaklukkan tugas perancangan pesawat…πŸ™‚

Tetapi karena gempuran begitu hebat dan saya tidak punya cukup amunisi untuk bertahan, akhirnya saya “berpikir strategis ke depan”. Ups, ini hanya cara ngeles saja untuk tidak mau mengatakan menyerah… he-he-he… If you can not beat them, then join them! Mudah-mudahan ini tidak termasuk kategori berkhianat. Ada sih cara lain untuk ngeles, I never wrote down BEAT SAP. That was typo error. It should be BE AT SAP. Some day I will be at SAP. There is a space between BE and AT. he-he-he. just kidding.

Akhirnya saya memang bergabung bersama SAP. Tentu bukan karena typo error itu. Tetapi lebih karena serbuan SAP semakin agresif tidak saja mendekati customer-customer saya, tetapi malah membujuk saya untuk bergabung. Apalagi menurut perhitungan saya Mincom tidak bakal kuat menghadapi serbuan SAP yang dari berbagai aspek jauh lebih unggul. Dan dugaan saya benar, beberapa tahun kemudian PT Mincom Indoservices memang kolaps. Saya bersyukur memiliki sensitivitas seperti ini. Sensistivitas yang sama pernah saya tunjukkan sewaktu pamit dari Sempati. Banyak orang menyayangkan keputusan saya keluar dari Sempati ketika Sempati masih sangat jaya. But I had my own calculation that Sempati will soon be collapsed.

Bergabung dengan perusahaan raksasa semacam SAP awalnya memang berat. Malah sangat berat. Saya mesti set up organisasi Global Support di Indonesia dari nol, seperti yang saya lakukan sewaktu merintis organisasi Information System di Sempati. Selama 2 tahun pertama saya kerja sendirian. Betul-betul sendirian seperti mengerjakan tugas akhir saja. Tidak ada team member, tidak ada asisten. Dari a sampai z harus dikerjakan sendiri. Tetapi setelah melewati tahapan itu semuanya berubah drastis. Apalagi saya mempunyai kebebasan penuh untuk memilih team members yang terbaik. Alhasil, setelah tahun ke-3 di SAP, praktis saya tinggal ongkang-ongkang kaki saja. Semuanya sudah in place, saya bisa kerja dari mana saja dan kapan saja seperti coca cola karena infrastruktur yang hebat. Team members juga bisa lari sendirian dan hanya perlu dimonitor sesekali saja.

Banyaknya waktu luang itu membuat saya kembali teringat mimpi-mimpi yang belum terlaksana, yaitu menciptakan lapangan kerja. Bersama beberapa teman akhirnya saya mendirikan perusahaan consulting. Sempat mendapat satu proyek kecil, tetapi belum setahun perusahaan itu gulung tikar. Habis semuanya pada tidak mau full time. Mau berbisnis tetapi semuanya hanya berani bermain aman. No way. Alhamdulillah saya gagal lagi. Alhamdulillah dapat pelajaran berharga lagi. Belajar dari pengalaman itu, bersama teman-teman yang lain saya kembali mencoba membuka lapangan pekerjaan. Kali ini di bidang multimedia. Kali ini kita mempersyaratkan harus ada yang full time. Alhamdulillah perusahaan itu masih berdiri sampai sekarang dan mampu menghidupi lebih dari sepuluh karyawan.

Memutuskan Pindah Kuadran
Semakin lama, bekerja di SAP semakin membosankan. Tidak ada tantangan baru. Hanya ongkang-ongkang kaki saja semuanya bisa datang sendiri. Brand SAP yang demikian kuat membuat para karyawannya dimanjakan comfort zone. Puncaknya saya alami pada April 2008 ketika saya mendapat Winner Circle Award dengan hadiah “honeymoon” bersama istri di kepulauan Maldives (Maladewa) yang eksotik itu. Selama seminggu kami diinapkan di resort yang sangat mahal (untuk ukuran saya) di tengah samudra hindia. Saya jadi berpikir sendiri, wong saya hanya ongkang-ongkang kaki kok dimanjakan seperti ini. Makanya begitu pulang dari Maldives saya bicara pada bos saya kalau saya perlu tantangan baru. Awalnya bingung juga mau ngomong apa, tapi akhirnya keluar juga keinginan yang looks very arogan itu. Untungnya bos saya bukan orang Jawa tapi orang Jerman yang tidak ada basa-basinya.

Tapi rupanya orang Jerman bisa salah interpretasi juga. Dikiranya saya pengin jabatan. Makanya saya ditawarin untuk pegang SAP Global Support di Pakistan! Ups, no sir. That’s not what I am looking for. Padahal kalau ditawari ke Jerman mungkin saya goyah juga… he-he-he. Akhirnya saya sampaikan bahwa itu bukan yang saya cari. Saya ingin keluar dari SAP, mencoba peruntungan sendiri, tetapi dengan satu syarat: diberi status SAP official partner. Itu harga mati buat saya karena saya tidak mau gambling terlalu besar. Saya masih memerlukan strong brand-nya SAP. Saya bukan orang yang terlalu nekat lagi dalam usia sekarang. Rupanya bos saya mengerti dan sebelum keluar dari SAP pun saya sudah mendapatkan previlige sebagai SAP partner yang bagi orang lain barangkali susahnya minta ampun.

Walaupun sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati, rupanya terjun bebas sebagai entrepreneur tetap saja menyisakan resiko yang tidak kecil. Sejak saat itu saya kembali memulai petualangan baru yang penuh tantangan. Ketika akhirnya memutuskan keluar dari SAP, saya sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk bisa bertahan selama 2 tahun tanpa gajian. Tetapi ternyata baru berjalan beberapa bulan, antisipasi 2 tahun sudah tidak mungkin tercapai lagi. Mendirikan usaha dari nol ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Alhasil, persiapan 2 tahun tanpa gajian mesti dikoreksi menjadi 1 tahun tanpa gajian, itupun dengan syarat ikat pinggang mesti diikat erat-erat.

Tiga bulan pertama adalah masa bulan madu. Saya begitu bersemangat bekerja, mendatangi prospek kesana-kemari, ikut tender sana-sini. Pada perioda bulan madu ini confident level masih tinggi sekali karena ada tender yang peluang menangnya sangat tinggi. Tiap malam saya tahajud, mohon dibukakan jalan supaya bisa menang tender sehingga bisa memperpanjang nafas perusahaan. Begitu intensifnya berdoa, sampai2 doa saya kebablasan, sampai memaksa-maksa Tuhan supaya saya bisa menang tender…πŸ™‚

Manusia berusaha, tetapi Tuhan lah Sang Maha Penentu. Ternyata peluang tender perdana ini gagal! Secara teknis perusahaan kami memang nomor satu, tim evaluasi teknis malah sempat ketrucut mengatakan “jatuh cinta” pada solusi yang kami tawarkan. Tapi apa daya, sang Dirut tidak comfortable dengan perusahaan kami yang baru beberapa bulan berdiri. Alhasil, bank guarantee yang prosentasenya dinaikkan berlipat dan referensi dari customer-customer saya sebelumnya pun tidak bisa membantu. Alhasil, proyek diputuskan ditunda! Keputusan yang sangat aneh, karena ini tender resmi, mengundang banyak vendor, dan sudah mengikuti prosedur baku. Kok bisa2nya keputusan akhirnya ditunda… Saya sempat shocked! Betul2 shocked karena tidak menyangka bakal terjadi seperti ini. Berbagai upaya sempat saya lakukan supaya keputusan dramatis itu tidak terjadi. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah diambil, terpaksa kami gigit jari…

Setelah tender resmi ditunda, saya mulai limbung. Rasa percaya diri mulai luntur, karena prospek2 berikutnya pun sering mempertanyakan status perusahaan saya yang baru berdiri. Ini berjalan beberapa lama, sehingga emosi saya mulai teraduk-aduk. ..

Tidak mau larut dalam kesedihan, saya akhirnya mulai menggarap prospek yang kecil-keciilll dengan harapan tidak ada handicap sebagai perusahaan baru. Akhirnya telor pertama pecah, dengan nilai sangat kecilll hanya seribu US dollar saja, yang untuk biaya operasional perusahaan selama sebulan saja tidak cukup. Tapi alhamdulillah, telor sudah pecah, walaupun baru telur burung emprit… Pelan-pelan telur burung emprit itu memberikan kepercayaan diri saya lagi. Alhamdulillah, telur yang agak gedean pecah lagi, yang bisa memperpanjang nafas perusahaan. Asap dapur keluarga pun bisa diperpanjang beberapa bulan lagi…

Berbekal proyek dengan durasi 6 bulan ini saya mulai confident lagi untuk terus mencari proyek-proyek berikutnya. Tiada hari tanpa cari proyek. Tiap hari saya pergi kesana kemari tanpa lelah untuk mengendus peluang bisnis. Alhamdulillah telor ketiga pecah lagi, yang membuat saya lebih pede lagi. Eh, hanya selang beberapa hari telor keempat kembali pecah… Maha suci Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata kerja keras saya selama ini didengar olehNya. Ternyata kerja keras itu membuahkan hasil juga. Alhamdulillah, nafas perusahaan kembali bertambah panjang, dan mudah2an target saya sebelumnya untuk bisa survive tanpa gaji selama 2 tahun bisa tercapai. Target yang barangkali sangat sederhana, tetapi itu merupakan target yang tidak mudah dicapai untuk perusahaan yang baru berdiri.

Ada pengalaman yang sangat berkesan dalam mencari proyek tersebut yang alhamdulillan semuanya dengan perusahaan swasta (you know why I said so… he-he-he…) . Pada proyek terakhir yang kami dapatkan, semuanya berjalan begitu cepat dan tidak terduga. Saya datang pada saat-saat terakhir ketika perusahaan tersebut sudah mau memutuskan pemenang tender. Ceritanya, direktur perusahaan tersebut sering saya support waktu saya masih di SAP. Dan ketika saya iseng main ke kantornya, secara tidak sengaja kita ngobrol yang berkaitan dengan proyek yang akan dilakukan. Begitu tahu kalau saya bisa menyediakan service yang sama, dia buru-buru telpon ke bagian procurement supaya pengumuman pemenang tender ditunda karena ada perusahaan baru yang mau ikutan. In short, saya nyusul ikutan tender, dan menang! Ini dimungkinkan karena di perusahaan swasta asing prosedur tendernya tidak kaku seperti di BUMN. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan dengan cleannnn…

Moral story dari cerita terakhir ini adalah pentingnya silaturahmi. Tentu saja silaturahmi yang berkualitas. Tidak mungkin direktur tersebut mau repot-repot menelpon bagian procurement supaya saya bisa nyusul ikut tender yang sudah sampai di ujung kalau diantara kami tidak ada past experience yang baik. Kebetulan waktu di SAP saya memang pernah mensupport dia ketika menghadapi situasi yang sangat kritikal ketika sistem SAP nya mati dan kerugian besar sudah membayangi perusahaan tersebut kalau sistemnya tidak segera up. Alhamdulillah waktu itu saya dan tim bisa membantunya sehingga kerugian besar itu bisa dihindari. Dugaan saya itulah satu-satunya alasan mengapa sang direktur mengizinkan saya nyusul ikutan tender yang berakhir dengan cerita yang sangat menggembirakan bagi perusahaan yang baru seumur jagung ini.

Mimpi Selanjutnya: Mendirikan Sekolah Entrepreneurhsip
Pengalaman beberapa bulan sebagai entrepreneur semakin menambah kepercayaan diri saya untuk melanjutkan gagasan mendirikan sekolah entrepreneurship yang sudah saya rintis bersama teman-teman lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya merasa sudah memiliki bekal pengetahuan, pengalaman, dan, ini yang sangat penting, bekal kredibilitas untuk mengajarkan entrepreneurship kepada mahasiswa-mahasiswa saya kelak. Pengalaman menantang resiko sudah saya tunjukkan sejak awal menjadi mahasiswa sampai sekarang. Pengalaman gagal berbisnis, saya punya. Jangan lupa, pengalaman gagal juga sangat penting asal kita tidak berhenti pada kegagalan itu sendiri. Pengalaman mempertahankan bisnis sendiri lebih dari 5 tahun juga saya miliki dengan perusahaan multimedia yang masih berjalan sampai sekarang. Pengalaman berani menjadi orang tidak gajian pun sudah saya buktikan. Paling tidak, pengalaman-pengalaman itu penting buat teman-teman saya yang barangkali ingin menintipkan anak-anaknya sekolah di Maestro School of Entrepreneurship untuk menjadi entrepreneur muda yang mandiri.

Mimpi mendirikan sekolah ini begitu penting buat saya karena sejak awal saya memang bercita-cita menjadi seorang guru seperti Ibu dan almarhum Ayah saya. Mudah-mudahan ini bisa mengobati kekeliruan saya sehingga gagal menjadi dosen di almamater tercinta, Tenik Penerbangan ITB. Semoga.

BSD City, 27 November 2009

Hari Tjahjono

PN ITB ’84

Kategori:1980 - 1989
  1. 27 November 2009 pukul 16:21

    Pak Hari, kisah anda sungguh sangat menginspirasi saya (berulang kali saya katakan)

    terima kasih atas sharing cerita anda, semoga dengan belajar dari pengalaman bapak, saya dapat “Meraih Mimpi” saya suatu hari kelak..

    satu hal lagi pak, quote

    “Tapi itulah berkah kuliah di PN ITB: selalu nekat!”

    sangatlah tepat dan mengena,hehe..

    sukses selalu untuk bapak,
    salam dari mahasiswa yang mencoba untuk bangkit!πŸ˜€

  2. edo
    11 Februari 2010 pukul 15:14

    salam hangat, mas saya sangat tertegun membaca cerita meraih mimpi anda. kalo bisa saya bisa mengetahui kontak anda dan alamat. oh yah saya seorang reporter tv swasta di jakarta. bila berkenan alamat saya di flazq87@yahoo.com

  3. 10 Mei 2010 pukul 17:03

    salam kenal… dan trims atas infonya…

  4. 26 Agustus 2010 pukul 15:14

    Jalan2 lihat blog

  5. nugraha
    13 Desember 2010 pukul 19:17

    Apakah bapak Hari Tjahjono yang sekarang memimpin di Abyor Consulting

    • 13 Desember 2010 pukul 21:28

      Betul. Beliau mendirikan Abyor dan School of Enterpreneur (Maestro)

  6. agus wahyu s
    20 September 2013 pukul 19:05

    menginspirasi!

  7. adeanjunaulisyahbbb
    6 Maret 2016 pukul 20:11

    Subhanallah, bangga saya bisa bertemu bapak dan bisa mewawancarai Pak HarryπŸ™‚

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: