Beranda > - Pendiri > Oetarjo Diran : Bos Tanpa Anak Buah

Oetarjo Diran : Bos Tanpa Anak Buah

KERTAS, map, buku-buku, dan bundel laporan ada di mana-mana. Tak mengherankan bila tumpukannya hampir menenggelamkan meja kerja, menyita setengah lantai ruangan. Begitulah ruang kerja Prof. Oetarjo Diran, penyelidik kecelakaan pesawat terbang, yang cuma berukuran 15 meter persegi di lantai II Gedung Departemen Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

”Meski berantakan, sedikit pun tak mengganggu gairah kerja saya,” kata si empunya ruang itu ketika menerima Gatra. Malah, Diran, begitu ia sering disapa, akan panik bila ada tangan asing mencoba merapikannya. Apa pun, bagi Diran, tumpukan itu punya katalog sendiri. Ia bisa cepat mencari bundel mana yang ia perlukan.

Hamparan kertas itu merupakan bukti jerih payahnya bekerja sebagai Ketua Komisi Kecelakaan Transportasi Udara Nasional. Isinya, penelitian lengkap soal sebab-musabab musibah. Selama ini, sudah 33 kasus yang ia tangani. Ia dituntut untuk bisa menjawab teka-teki di balik tragedi itu. ”Dari kasus-kasus kecelakaan itu kita bisa belajar, agar tak terulang lagi,” katanya.

Tak aneh bisa sosok kecil Diran hampir selalu muncul di tengah reruntuhan burung besi yang terjerembap itu. Meski usianya sudah 66 tahun, Diran masih gesit. Ia sering seperti berlomba dengan penyelidik lain untuk tiba di lokasi kecelakaan. Diran sadar betul, untuk mendapatkan hasil yang baik, ia mesti bekerja sebelum reruntuhan itu diacak-acak orang.

Tapi, di lapangan, Diran mau mendahulukan search and rescue (SAR) yang bertugas mengevakuasi korban. ”Bagaimanapun, nilai manusia itu lebih penting,” kata perintis Lembaga Penerbangan dan Antariksa ini. Ia baru kerja habis-habisan setelah tim SAR selesai tertugas.

Pada musibah Airbus 330 Garuda di Sibolangit, Sumatera Utara, 1997, ia muncul di lokasi beberapa jam setelah pesawat terempas. ”Waktu itu, saya diterbangkan oleh pesawat pribadi Haryanto Dhanutirto, Menteri Perhubungan ketika itu,” ujar Diran mengenang.

Sesampai di tempat musibah, bak jenderal kancil, dengan sigap ia memberikan komando kepada anggota timnya. Serpihan demi serpihan diperiksa, dipilah, dikumpulkan. Tapi, untuk mendapatkan black box, si kotak hitam hitam yang berisi rekaman percakapan terakhir di ruang kokpit, ia perlu 32 hari. Barang itu tertanam 51 cm di dalam tanah, di balik akar-akar pohon. ”Tidak ada inspirasi di mana letak benda itu, pokoknya kita gali saja. Eh, ternyata ketemu juga,” katanya.

Tak selamanya kerja Diran mendapatkan hasil. Pada kasus jatuhnya Boeing 737 Silk Air di Sungai Sungsang, Palembang, pada 1997 juga, kotak hitamnya pun sulit dicari. Bahkan, potongan tubuh pesawat itu sulit ditemukan karena terserak di tempat yang sangat luas. Toh, akhirnya black box dapat ditemukan berkat bantuan tim penyelam Angkatan Laut yang dipimpin Rosihan Arsyad, kini Gubernur Sumatera Selatan.

Meski kotak hitam di tangan, tak berarti misteri langsung terkuak. Diran harus mengkaji secara cermat seluruh temuannya. Biasanya, black box harus dikirim ke luar negeri untuk mendapat hasil seakurat mungkin. Hasilnya pun tak bisa cepat dipetik. Terkadang harus menunggu beberapa tahun.

Untuk kecelakaan di Sibolangit dan Palembang saja, kata Diran, hasilnya baru dalam waktu dekat ini, setelah lebih dari tiga tahun, akan diumumkan. ”Banyak kelemahan telah kami temukan,” ujarnya. Misalnya, prosedur proteksi kecelakaan yang sudah jebol. Prosedur apa yang dimaksud? Diran menyilakan menunggu pengumuman resminya. Meski dikenal ramah, Diran pelit memberikan pernyataan pers tentang kecelakaan peswat terbang. Apalagi kalau diminta berspekulasi.

Kecintaan Diran terhadap pesawat terbang bermula dari kekagumannya pada burung. ”Burung bisa terbang, kok manusia enggak,” begitu pertanyaan Diran kecil kepada ayahnya, M. Diran, yang dokter. Rupanya, Diran tak cukup puas. Rasa penasaran terhadap burung itulah yang membawanya meminati dunia penerbangan. Sejak kelas II SD Mayumi (kini SD Cikini), Jakarta Pusat, ia gemar mengoleksi gambar-gambar pesawat terbang.

Setamat dari SMA Budi Utomo, Jakarta, 1952, Diran menentang keinginan ayahnya yang menginginkan dia melanjutkan profesi keluarga sebagai dokter. Diran justru menyambar tawaran ikatan dinas dari pemerintah untuk belajar teknik penerbangan di Technische Hogeschool Delf, Belanda.

Semula, ayahnya keberatan Diran meninggalkan Tanah Air. Ayahnya khawatir Diran hanya mau main-main. ”Tapi, kemudian beliau mengizinkan dengan syarat, saya bisa menyelesaikan pendidikan dalam lima tahun,” katanya. Ia tak mau buang-buang waktu. Ngebut belajar.

Syarat itu dipenuhi. Diran lulus tepat waktu. Ia pulang kampung tahun 1957, dengan membawa gelar ”tukang” insinyur. Sebagai insinyur penerbangan, hal yang amat langka saat itu, ia langsung diterima bekerja di Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Empat tahun kemudian, ia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan singkat di Purdue Graduate School for Aerospace and Engineering Sciences, Amerika Serikat, salah satu pendidikan keteknikan terbaik di dunia.

Sepulangnya dari Amerika, Diran tak kembali ke Departemen Perhubungan. Ia membelokkan langkahnya ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), dan pada 1961 itu juga mendirikan jurusan teknik penerbangan. ”Mulanya banyak yang meragukan jurusan itu bisa berkembang,” tuturnya. Namun, ia menjawab suara miring itu dengan kerja keras. Hingga kini, jurusan yang berada di bawah fakultas mesin itu tidak henti menelurkan insinyur teknik penerbangan yang dianggap berkualitas.

Diran sempat sebentar meninggalkan kampus karena bujukan Prof B.J. Habibie. Ia diminta mengepalai bagian design engineering pembuatan pesawat CN-235, pada 1978. Ketika itu, Habibie menantang Diran untuk membuat pesawat hanya dalam tempo lima tahun. Tantangan ini dijalaninya. ”Pesawat CN-235 mengangkasa 30 Agustus 1983, dua hari sebelum tenggat waktu,” kata peraih penghargaan spesial Life Cycle Award dari Persatuan Insinyur Indonesia, tahun 1993, itu bangga.

Setelah pesawat terbang komuter bermesin turboprop, dengan 35 penumpang, itu mengudara, Diran kembali ke kampus. Habibie keberatan. Namun, Diran berhasil meyakinkan koleganya bahwa dari ruang kuliah itu akan lahir kader-kader yang nantinya mampu menggantikan Diran, juga Habibie, di industri dirgantara. Hasilnya nyata. Kini pucuk-pucuk pimpinan Industri Pesawat Terbang Nusantara –kini PT Dirgantara Indonesia– seperti Harry Laksono dan Agung Nugroho, lahir dari gemblengan Diran di ITB.

Di sela kesibukannya sebagai guru besar ITB, Diran selalu menjadi sumber bertanya setiap terjadi permasalahan dalam dunia dirgantara. Bahkan, ketika Komisi Kecelakaan Transportasi Nasional yang independen terbentuk pada 1997, pemerintah mempercayai Diran sebagai ketuanya. Uniknya, karena bersifat komisi, jadilah Diran seorang bos tanpa anak buah. ”Untungnya, saya punya banyak teman yang siap membantu kalau ada kecelakaan,” kata penyandang Bintang Jasa Utama RI tahun 1994 itu.

Banyak yang meledek, kok mau-maunya Diran bekerja di ladang yang ”kering”. Bayangkan saja, dari anggaran Rp 150 juta setahun yang diberikan pemerintah, setengahnya amblas untuk biaya operasional kantor. Padahal, untuk menyelidiki satu kasus kecelakaan pesawat, perlu dana ratusan juta rupiah. ”Untung kami sering mendapat bantuan, dari konsumsi tim selama di lapangan sampai tiket penerbangan gratis menuju lokasi kecelakaan,” kata Diran.

Sampai-sampai, anak semata wayangnya, Katja Rachmiana, 26 tahun, tak henti meledeknya. Diran tetap saja enjoy, meski harus bekerja sendirian di ruang kerja yang disesaki tumpukan kertas. Jakarta, 4 Desember 2000 00:18
Hidayat Gunadi dan Taufik Abriansyah

Kategori:- Pendiri
  1. 27 November 2009 pukul 16:06

    pak diran merupakan sosok yang amat langka.. senang bisa menjadi cucu anda pak, terima kasih banyak atas jasa serta pengabdian yg telah bapak berikan terhadap kemajuan pendidikan, khususnya kepada teknik penerbangan..

  2. 15 Mei 2012 pukul 20:18

    Moga tetep sehat dan panjang umur

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: