Beranda > - Pendiri > Prof. O. Diran, the “Provocative Educator”

Prof. O. Diran, the “Provocative Educator”

Oleh: Hari Tjahjono*

SAYA mulai mengenal lebih mendalam Prof. O. Diran, atau biasa saya panggil Pak Diran saja, ketika mengambil tugas perancangan pesawat I dan II di Jurusan Teknik Penerbangan ITB. Sebelumnya saya hanya mengenal beliau sebagai dosen “killer”, dosen yang sangat cerdas, sekaligus dosen yang nyeleneh. Sangat cerdas dan nyeleneh rupanya memang saling berhubungan dan saling mempengaruhi yang akhirnya menjadi karakter yang built-in dan genuine dalam diri Pak Diran. Mungkin beliau sendiri tidak sadar akan hal ini.

 

Waktu pertama kali mengikuti kuliah beliau, awalnya saya tidak mengerti dengan gaya beliau mengajar yang nyeleneh: sepanjang waktu kuliah tidak pernah membahas materi kuliah secara rinci baik yang ada di textbook ataupun diktat kuliah. Beliau malah bicara dan diskusi panjang lebar kesana-kemari yang dimata para mahasiswa terlalu filosofis. Waktu itu saya tidak begitu memperhatikan sentuhan filosofis ini karena terlalu sibuk berorganisasi. Alhasil, waktu itu saya malah senang dengan pendekatan seperti itu karena tidak perlu banyak membaca buku sebelum mengikuti perkuliahan. Belakangan saya menyesal karena kehilangan peluang besar untuk bisa membaca pemikiran Pak Diran yang filosofis itu, yang ternyata hanya bisa diikuti dengan baik kalau saya banyak membaca buku teks sebelumnya.

Dosen yang “provokatif”

Gagal mempelajari filososi Pak Diran dari perkuliahan di kelas, saya merasa bersyukur bisa sangat intens berdiskusi dengan beliau untuk tugas kuliah Perancangan Pesawat dan Tugas Akhir. Total waktu yang saya perlukan untuk menyelesaikan Tugas Perancangan Pesawat dan Tugas Akhir ini sekitar 2 tahun penuh. Selama 2 tahun penuh itu saya intensif sekali berdiskusi tentang topic apa saja. Apalagi saya termasuk mahasiswa yang menjadi langganan menjaga rumah beliau yang aristokratik di Jalan Dago, Bandung, ketika beliau bepergian ke luar kota atau ke luar negeri.

Dari diskusi intensif dengan beliau itulah saya mengenal Pak Diran sebagai dosen yang “provokatif”, tentu dalam arti yang positif. Pak Diran selalu mem-provoke mahasiswanya dengan pertanyaan-pertanyaan nakal yang sering tidak pernah terpikir oleh mahasiswa. Misalnya pada waktu mahasiswa merancang pesawat latih 2 penumpang yang tentu saja kabin-nya sangat sempit, beliau secara provokatif menanyakan kepada mahasiswa tersebut di mana mau diletakkan toiletnya? Entah karena kebanyakan mahasiswa terlalu berpikir inside the box atau karena saking paniknya, selama beberapa menit mahasiswa biasanya hanya terdiam bingung memikirkan jawabannya. Dan ketika mahasiswa sudah kehilangan akal, Pak Diran menjawab sendiri pertanyaan nakalnya dengan gayanya yang khas: “suruh saja pilot dan penumpangnya kencing dulu sebelum terbang.” Dan geeeerrr mahasiswa yang ada di ruangan itu biasanya pada tertawa sambil tersipu malu. Malu menyadari kebodohannya sendiri.

Awalnya saya rada keki juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang membuat saya merasa menjadi mahasiswa terbodoh di dunia. Cilakanya pertanyaan nakal seperti itu selalu saja muncul di setiap asistensi tugas perancangan pesawat, dan sulit sekali diantisipasi kapan datangnya dan pertanyaan macam apa lagi yang akan beliau ditanyakan. Itu semua terjadi karena cara berpikir beliau yang wild, out of the box dan tidak suka hal-hal yang biasa-biasa saja. Akhirnya kami para mahasiswanya pasrah saja menghadapi semua kemungkinan yang terjadi. Whatever will be, will be.Rupanya Pak Diran bisa mengajarkan jiwa yang tawakal pada para mahasiswanya dengan caranya sendiri. Siapa bilang pelajaran tawakal hanya bisa diajarkan di masjid-masjid atau tempat ibadah saja? J

Pendekatan beliau yang provokatif itulah yang membuat mahasiswanya juga terdorong untuk melakukan dan memikirkan hal-hal yanag tidak biasa, termasuk dalam tugas perancangan pesawat. Itu jugalah sebabnya mengapa saya memilih merancang pesawat 3-bidang untuk Tugas Perancangan Pesawat saya. Padahal itu konsep yang tidak biasa untuk pesawat komersial 110 penumpang. Pendekatan yang sangat aneh, seusai kesukaan Pak Diran! Tetapi walaupun demikian, tetap saja beliau tidak kehilangan akal untuk memprovokasi mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Mengapa you merancang pesawat komersial begitu besar dengan menggunakan canard? Dan kalau sudah begini mahasiswa akan pusing tujuh keliling mencari jawaban yang sifatnya scientific. Tidak bisa hanya sekedar menjawab bahwa ia ingin melakukan hal-hal yang aneh saja seperti keinginan Pak Diran.. he-he-he. Alhasil, dengan caranya yang khas, Pak Diran mampu melatih mahasiswanya untuk berpikir out-of-the box secara terus menerus.

Sayangnya ada saja mahasiswa yang salah persepsi dengan cara Pak Diran mendidik yang di mata banyak mahasiswa terlalu keras ini. Akibatnya, ada saja mahasiswa yang gagal menyelesaikan studinya di Jurusan Teknik Penerbangan karena tidak kuat menghadapi gemblengan Pak Diran yang barangkali yang paling keras di seluruh ITB, dan bahkan di seluruh dunia!

Sangat perfeksionis

Satu ciri lagi yang ada pada Pak Diran sebagai dosen adalah sifatnya yang sangat perfeksionis. Pak Diran ingin mahasiswanya mengerjakan tugas-tugasnya dengan sempurna. Dan ini hanya bisa dicapai apabila mahasiswa mengawali tugasnya dengan cara berpikir yang benar dan tidak memtolerir kesalahan sekecil apapun. Pernah dalam sebuah diskusi saya mengatakan perlunya sebuah kompromi Begitu mendenngar kata kompromi, beliau marah besar. Betul-betul marah sampai meminta saya untuk mencoret kata kompromi dalam pikiran saya selamanya dan dalam hal apapun! Wah, sebuah permintaan yang sangat berat untuk saya penuhi karena selama ini saya sering melakukan kompromi-kompromi atas masalah yang saya hadapi. Belakangan saya baru menyadari bahwa permintaan beliau yang nyeleneh itu sebenarnya sebuah pelajaran bahwa dalam hidup kita mesti mencari titik yang paling optimal (optimasi) dari masalah apapun yang kita hadapi. Optimasi menggantikan kompromi. Looks impossible kalau kita malas berpikir.

Sifat perfeksionis Pak Diran rupanya dilatarbelakangi keinginan beliau supaya setiap mahasiswanya memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya secara maksimal. Beliau tidak ingin mahasiswa menyia-nyiakan potensi yang ada pada dirinya. Beliau ingin mahasiswa terus belajar dan berusaha supaya bisa melakukan hal yang jauh lebih baik dari apa yang dia lakukan sekarang. Saya sendiri menjadi “korban” dari sifat perfeksionis Pak Diran ini. Walaupun sudah hampir 9 bulan penuh saya tinggal di laboratorium untuk menyelesaikan tugas akhir, beliau masih belum mengizinkan saya ikut sidang sarjana. Padahal seluruh item yang direncanakan pada proposal sebelumnya semuanya sudah selesai saya kerjakan. Rupanya beliau ingin saya melakukan lebih dari apa yang saya lakukan saat itu karena beliau ingin stretching the goal up to the limit. Hal-hal seperti inilah yang tidak disadari mahasiswa, termasuk saya, yang sering berprasangka buruk bahwa Pak Diran menghalang-halangi mahasiswanya untuk cepat lulus.

Mengajarkan Cara Berpikir

Dibandingkan dengan dosen-dosen lain yang pernah saya kenal, satu hal yang sangat khas dari Pak Diran adalah konsistensinya mengajarkan cara berpikir kepada mahasiswanya, dan juga konsistenya memotivasi mahasiswa untuk belajar seumur hidup (long-life learner). Begitu kukuhnya beliau memegang prinsip ini sampai ada kesan beliau tidak mengajarkan apa-apa kecuali cara berpikir tersebut. Pada waktu mengajar Aerodinamika pun, yang beliau selalu tekankan adalah pentingnya berpikir yang benar. Think, think, and think. Itu yang terus beliau pompakan kepada mahasiswa, karena menurut beliau detil teknis akan mengikuti dengan sendirinya kalau cara berpikir kita sudah benar. Pada waktu mahasiswa, saya termasuk yang sulit memahami prinsip Pak Diran ini. Mungkin itu tetjadi karena pada waktu itu saya terlalu berharap terlalu banyak disuapin oleh para dosen. Hal yang sangat tabu buat beliau.

Setelah lama lulus dari ITB, saya baru menyadari pentingnya mengajarkan cara berpikir ini. Apalagi perkembangan teknologi dari hari ke hari semakin maju dengan percepatan yang eksponensial. Apa yang kita pelajari saat ini akan kedaluarsa dalam waktu yang sangat cepat. Tanpa cara berpikir yang benar dan semangat terus belajar sepanjang hayat, pastilah kita akan ketinggalan jaman dan menjadi penonton saja atas perkembangan teknologi yang ada. Rupanya Pak Diran sudah mengantisipasi hal tersebut jauh sebelum disadari oleh para mahasiswanya.

Rajin Membantu Siapa Saja untuk Sekolah ke Luar Negeri

Hal lain yang juga sangat menonjol dari Pak Diran adalah komitmennya membantu siapa saja yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sering sekali saya melihat beliau memberikan referensi kepada siapa saja yang meminta bantuan untuk sekolah ke luar negeri. Saya pun sering beliau nasihati untuk kuliah lagi ke luar negeri. Walaupun waktu itu status saya masih calon dosen, beliau sudah sibuk mencarikan saya sekolah untuk melanjutkan studi saya. Bahkan pada waktu saya pamit tidak jadi dosen lagi, nasihat terakhir beliau masih sama, bahwa suatu saat saya mesti kuliah lagi ke luar negeri karena banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari sana. Tidak saja pelajaran akademik, tetapi juga pelajaran kehidupan.

Beliau secara konsisten memegang teguh pendapat ini untuk siapa saja. Walaupun saya sudah tidak bekerja di lingkungan beliau lagi, pada sebuah kesempatan informal beliau menawarkan kepada saya untuk sekolah lagi ke luar negeri apapun bidang yang akan saya pilih. Bahkan ketika saya memilih bidang studi MBA yang jauh dari bidang beliau pun beliau tetap kukuh mendukung.Tidak saja memberikan surat referensi, beliau malah mencarikan beasiswa! Dan jangan lupa, surat referensi dari beliau itu sakti mandraguna dan sangat dipercaya di luar negeri. Walaupun belum ikut tes, saya bisa langsung diterima sekolah MBA di Belanda hanya karena surat sakti dari Pak Diran. Untungnya saya bisa menjaga kepercayaan itu dan dapat menyelesaikanstudi dengan baik. Kalau tidak, nama baik Pak Diran bisa dipertanyakan.

Dedikasi Tiada Tanding

Jangan tanyakan dedikasi Pak Diran dalam bidang pekerjaan yang beliau tangani. Semua orang tahu bahwa beliaulah perintis KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) yang kesohor itu. Kredibilitas komisi ini mencuat dan harum di mata internasional akibat dedikasi luar biasa beliau. Walaupun sudah lanjut usia, beliau naik turun gunung mencari pesawat Garuda yang jatuh di pegunungan sekitar Medan, Sumatera Utara. Layaknya “ahli nujum”, beliau bisa memperkirakan secara akurat posisi jatuhnya pesawat dengan daya nalarnya yang luar biasa. Alhasil, hasil investigasi kecelakaan pesawat Garuda di Medan ini diakui dunia sebagai salah satu hasil investigasi kecelakaan pesawat paling lengkap di dunia.

Tetapi tahukan Anda bahwa Pak Diran tidak digaji negara untuk tugasnya yang sangat heroik itu? Entah dengan pertimbangan apa, negara tidak mengucurkan dana untuk kegiatan komite yang sangat penting itu selain penyediaan ruang kerja! Selebihnya Pak Diran mesti mencari sendiri sumber pendanaannya! Sangat ironis memang, tetapi itulah yang terjadi. Tetapi itulah Pak Diran, beliau jalan terus dengan idealismenya walaupun sebesar apapun kendala yang dihadapi. Beliau jalan terus walaupun untuk itu harus ngamen sana-sini untuk menutupi kekurangan dana. Perusahaan tempat saya bekerja pernah memanfaatkan jasa ngamennya Pak Diran ini untuk menjelaskan konsep maintenance management system.

Looks impossible. Walaupun tidak ada anggaran dari pemerintah, Pak Diran jalan terus dengan KNKT-nya. Tidak ada kata tidak mungkin dalam kamus Pak Diran. Salah satunya itu dimungkinkan dengan network beliau yang sangat kuat di luar negeri. Banyak kegiatan KNKT di luar negeri yang disponsori jaringan pertemanan beliau, yang itu hanya mungkin terjadi karena kredibilitas beliau yang diakui di seluruh dunia. Kredibilitas mengatasi anggaran. Saya menyaksikan sendiri “keanehan” ketika pada suatu kesempatan saya diudang makan malam oleh Pak Diran di sebuah tempat di Singapura. Kolega Pak Diran di sana begitu hormat dengan apa yang dilakukan Pak Diran dengan KNKT-nya yang berhasil mengurai benang kusut kecelakaan Silk Air di Sungai Musi, Palembang beberapa tahun yang lalu.

Tentang Ikatan Alumni

Pak Diran adalah dosen PN ITB yang paling getol mendorong dibentuknya Ikatan Alumni PN ITB. Bahkan terbentuknya Ikatan Alumni PN ITB (IAP-ITB) juga dimulai pertemuan informal alumni PN ITB di rumah beliau yang memecahkan rekor jumlah alumni PN ITB yang berkumpul pada waktu itu sebanyak sekitar 70 orang. Sering sekali pertemuan-pertemuan IAP-ITB dilakukan di rumah beliau yang seolah sudah menjadi sekretariat ikatan alumni.

Saking getolnya beliau mendorong kemajuan ikatan alumni PN ITB, beliau hampir tidak pernah absent di acara-acara yang diselenggarakan oleh IAP-ITB baik itu rapat pengurus, halal bi halal, atau bahkan pertemuan informal rutin yang diselenggarakan sebulan sekali secara bergiliran dari rumah ke rumah. Malah perkembangan mailing list IAP-ITB pun tidak pernah luput dari perhatian beliau, padahal rentang usia peserta milis sangatlah lebar bisa berbeda generasi lebih dari setengah abad! Awalnya beliau sempat tidak nyaman mengikuti diskusi-diskusi peserta maling list yang tidak saja berbeda generasi tetapi juga lebih sering guyonannya. Tapi semangat beliau untuk mendorong IAP-ITB terus lebih baik lagi dari waktu ke waktu maka beliau tetap rajin mengikuti perkembangan mailing list dari rajin memberikan komentarnya. Sungguh luar biasa, semangat beliau memajukan komunitas alumni PN ITB sangat jauh di atas rata-rata dibandingkan siapapun anggota komunitas Ikatan Alumni PN ITB.

Penutup

Dari cerita singkat di atas jelaslah siapa itu Prof. O. Diran, sang pendiri Jurusan Teknik Penerbangan ITB. Dedikasinya pada perkembangan pendidikan tinggi Teknik Penerbangan di ITB pada khususnya dan Indonesia pada umumnya sungguhlah luar biasa. Visinya yang jauh ke depan merintis pendidikan Teknik Penerbangan di ITB pada awal tahun 60-an tidak berhenti sampai dengan berdirinya Jurusan Teknik Penerbangan saja, tetapi terus dibimbingnya sampai pada pendirian Ikatan Alumni hampir 50 tahun kemudian.

Komitmen yang luar biasa itu menunjukkan bahwa Prof. Diran bukan hanya seorang guru sejati, tetapi juga seorang pejuang yang berani memulai sesuatu yang baru dan terus membantunya berkembang sampai akhir hayat.

* Hari Tjahjono adalah ex mahasiswa bimbingan Prof. O. Diran yang kini menjadi Presiden Direktur PT Abyor International dan pendiri sekolah entrepreneurship, Maestro School of Entrepreneurship.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: